PENYAKIT INFEKSI SALURAN PENCERNAAN : TYPHOID (A01)

By Cindy - Mei 30, 2023

 PENYAKIT INFEKSI SALURAN PENCERNAAN : Typhoid (A01)



Demam tifoid atau tipes atau demam enterik adalah penyakit infeksi akut pada usus halus, demam typhoid berawal dari bakteri Salmonella typhi masuk melalui mulut masuk ke usus halus, ke jaringan limfoid dan berkembang biak menyerang vili usus halus kemudian masuk keperedaran darah hingga masuk ke organ-organ lain. 

Demam paratyphoid atau demam paratifus disebabkan oleh bakteri Salmonella paratyphi. Demam paratypoid dibagi menjadi tiga subtipe Salmonella paratyphi. 

  • 1. Salmonella  paratyphi A.

2. Salmonella  schottmuelleri (juga disebut S. paratyphi B).

3. Salmonella  hirschfeldii (juga disebut S. paratyphi C).

Tipe A adalah yang paling umum di seluruh dunia, tipe B adalah tipe demam paratyphoid yang paling sering ditemukan di Eropa. Tipe C jarang terjadi, dan hanya ditemukan di negara-negara timur tengah.

Dalam penegakan diagnosis demam tifoid perlu dilakukan pemeriksaan Kultur Salmonella (gold standard) atau pemeriksaan serologi (Tubex atau Enzyme Immunoassay Test) (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1186/2022)  Apabila Fasilitas Kesehatan tidak dapat melakukan pemeriksaan kultur atau serologi karena keterbatasan sarana, maka dapat dilakukan pemeriksaan widal secara serial agar menghindari false positive. interpretasi hasil positif bila titer aglutinin O minimal 1/320 atau terdapat kenaikan titer hingga 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang dengan interval 5–7 hari. 

Contoh : jika minggu I widal 1/80, kemudian minggu ke II widal 1/640.


Tatalaksana :

1. Terapi suportif dapat dilakukan dengan Istirahat tirah baring, Menjaga kecukupan asupan cairan, Diet bergizi seimbang, Konsumsi obat rutin dan tuntas, Kontrol dan monitor tanda vital 

2. Terapi simptomatik untuk menurunkan demam (antipiretik) dan mengurangi keluhan gastrointestinal. 

3. Terapi definitif dengan pemberian antibiotik. Antibiotik lini pertama untuk demam tifoid adalah Kloramfenikol, Ampisilin atau Amoksisilin (aman untuk penderita yang sedang hamil), atau Trimetroprim-sulfametoxazole (Kotrimoksazol). 

4. Bila pemberian salah satu antibiotik lini pertama dinilai tidak efektif, dapat diganti dengan antibiotik lain atau dipilih antibiotik lini kedua yaitu Seftriakson, Sefiksim, Kuinolon (tidak dianjurkan untuk anak <18 tahun karena dinilai mengganggu pertumbuhan tulang).




Dalam ICD-10 demam tifoid dan paratifoid terdiri dari 4 kode yang bisa dipilih :

* A01.0 dipilih jika pasien didiagnosa typhoid fever

kode typhoid dapat ditemukan pada volume 3 section 1 menggunakan leadterm Abscess, Eberth's disease, Enteritis, fever, Ileotyphus, Infection, Perforation, Typhoenteritis, Typhoid, Typhoperitonitis Typhus, Ulcer. 

* A01.1 dipilih jika pasien didiagnosa paratypoid fever tipe a

* A01.2 dipilih jika pasien didiagnosa paratypoid fever tipe B

* A01.1 dipilih jika pasien didiagnosa paratypoid fever tipe C

kode paratypoid dapat ditemukan pada volume 3 section 1 menggunakan leadterm fever dan Infection


Typhoid pada kehamilan : Jika tidak ada diagnosis lainnya, maka pengkodean untuk kasus tifoid pada kehamilan menggunakan kode O98.8 sebagai diagnosis utama dan kode A01.0 sebagai diagnosis sekunder
Penggunaan kode kombinasi untuk Typhoid fever (A01) dengan Diarrhoea and gastroenteritis of presumed infectious origin menjadi Salmonella enteritis :Sesuai dengan instruksi excludes pada volume I sub bab other gastroenteritis and colitis of infectious and unspecified origin fever (A09) yang menyatakan gastroenteritis and colitis due to bacterial, protozoal, viral and other specified infectious agents mengarah pada kode spesifik sesuai dengan organismenya (A00-A08). Sehingga kode A09 seharusnya tidak dikoding lagi apabila sudah ada typhoid fever (A01.0) yang tegak secara medis. Tidak ada instruksi khusus untuk menggabungkan antara A01.0 dengan A09 menjadi salmonella, enteritis (A02.0) baik dari volume I maupun III. 






  • Share:

You Might Also Like

0 Comments