Listeriosis merupakan penyakit yang disebakan oleh bakteri listeria monocytogenes yang dapat ditemui pada tempat dengan tingkat kelembaban tinggi. Penyakit ini dapat berakibat fatal pada orang-orang dengan resiko tinggi seperti bayi, ibu hamil, dan lansia. Bakteri ditularkan melalui makanan yang telah terkontaminasi atau proses pengolahan makanan yang kurangntepat. Umumnya seseorang akan mengalami diare, demam, kebingungan, hilang keseimbangan, dan kejang. Pmeriksaan yang bisa dilakukan untuk menegakkan diagnosa bisa berupa kultur darah dan CSF.

- A32.0 Cutaneous listeriosis, Listeriosis yang terjadi pada kulit akan terlihat ruam dan umumnya tidak menimbulkan rasa sakit, gatal dan mampu sembuh dengan sendirinya
- A32.1† Listerial meningitis and meningoencephalitis, kode digunakan untuk listerial yang menginfeksi meningen dan/atau meningen dengan otak bersamaan. Bakteri masuk melalui sawar darah yang merupakan membran pemisah antra pembuluh darah dan otak. Harap diperhatikan penggunaan kode A32.1 ini harus menggukan dagger asteriks
- A32.7 Listerial sepsis, adalah listerial yang telah masuk kedalam aliran darah sehingga mampu menyerbarkan bakteri ke organ lain dan dapat berakibat fatal. Fungsi Organ yang terinfeksi akan terganggu atau bahkan tidak dapat berfungsi.
- A32.8 Other forms of listeriosis, dipilih jika listeriosis terkonfirmasi bentuk lain namun
istilah tidak ditemukan dalam ICD
- A32.9 Listeriosis, unspecified, dipilih jika Listeriosis dicatat tanpa ada keterangan lain
Dalam ICD Kode untuk Infection due to other
mycobacteria terdiri dari 4 subkategori kode yang dapat dipilih berdasarkan
kondidi pasien.
A31.0 Pulmonary
mycobacterial infection, paru-paru yang terinfeksi mikrobakteri biasanya
ditandai dengan peradangan, batuk kering, hingga batuk berdarah, sulit bernafas
dan nyeri pada tulang rusuk
A31.1 Cutaneous
mycobacterial infection, kulit yang terinfeksi mikrobakteri biasanya ditandai
dengan peradangan, benjolan, kemerahan hingga luka
A31.8 Other
mycobacterial infections. Kode untuk infeksi mikrobakteri jenis lain namun
istilah tidak ditemukan dalam ICD
A31.9 Mycobacterial infection, unspecified. Dipilih jika infesi mikrobakteri dicatat tanpa ada keterangan lain
Leprosy (kusta) dikenal juga sebagai hansen disease merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium leprae dan mycobacterium lepromatosis. Seseorang dapat terinfeksi melalui droplet pernapasan. Mulanya serabut saraf sensorik dan otonom pada kulit yang terinfeksi akan mengalalmi kerusakan yang menyebabkan kerontokan rambut, mati rasa, kelemahan otot, pecah-pecah hingga luka dan ketidak mampuan untuk berkeringat. Leprosy dibagi menjadi 5 tahap keparahan, Indeterminate, Tuberculoid, Borderline tuberculoid, Borderline, Borderline lepromatous, dan Lepromatous. Dalam ICD terdapat 8 kode yang dapat dipilih untuk leprosy
A30.0 Indeterminate leprosy, merupakan tahap awal dari leprosy gejala dari leprosy tipe ini berupa lesi hipopigmentasi dan gangguan saraf yang masih samar umumnya mampu sembuh dengan sendirinya
A30.1
Tuberculoid leprosy, ditandai dengan lesi
hipopigmentasi atau kemerahan yang besar dengan batas yang jelas dan tepi yang
menonjol. Presentasi plak bersisik
A30.2
Borderline tuberculoid leprosy, pada leprosy tipe ini jumlah lesi belih bnayak
dibandingkan tuberculoid leprosy dan terjadi hanya satu sisi pada tubuh disebut
juga paucibacillary
A30.3
Borderline leprosy, disebut juga multibasiler
hampir mirip dengan borderline tuberkuloid leprosy yang tampilan lesinya
seperti donat (seperti berlubang dibagian tengah).
A30.4
Borderline lepromatous leprosy, memepunai ciri lesi kemerahan hingga coklat,
nodul atau papula yang kurang jelas pada tubuh ukuran lesi lebih besar dan
penyeberan yang tidak proporsional.
A30.5
Lepromatous leprosy, adalah tahapan paiing parah dari leprosy yang ditandai
kerontokan, pembesaran nodula pada daun telinga, invasi mukosa mirip flu, sptum
yang berlubang, gangguan saraf dan kelemahan tubuh anggota gerak.
A30.8
Other forms of leprosy, dipilih jika leprosy terkonfirmasi bentuk
lain namun istilah tidak ditemukan dalam ICD
A30.9
Leprosy, unspecified, dipilih jika Leprosy dicatat tanpa ada keterangan lain
PENYAKIT BAKTERI ZOONOSIS TERTENTU : OTHER ZOONOTIC BACTERIAL DISEASES, NOT ELSEWHERE CLASSIFIED (A28)
Pada bab ini tersedia kode untuk penyakit zoonosis yang tidak terklasifikasi pada kode sebelumnya kode pada kategori ini pun tidak dapat terklasifikasi ditempat lain
- A28.0 Pasteurellosis, adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri bernama pasteurella multocida yang dapat dideteksi melalui kultur darah
- A28.1 Cat-scratch disease, disebut juga felinosis adalah jenis penyakit infeksi yang yang disebabkan bakteri bertonella henselae pada kucing kemudian ditularkan pada manusia melalui luka terbuka yang terkena cakaran atau gigitan kucing penyakit ini dapat dideteksi melalui ciri klinis ataupun tes darah
- A28.2 Yersiniosis ekstraintestinal, penyakit yang dapat ditularkan dari hewan terinfeksi yersionosis enterocolitica yang menyerang organ ekstraintestinal seperti hati, otak, dan paru.
- A28.8 dipilih jika Penyakit bakteri zoonosis lain yang disebutkan namun istilah tidak ditemukan dalam ICD. Kategori ini tidak terklasifikasi ditempat lain.
- A28.9 dipilih jika Penyakit bakterial zoonosis dicatat tanpa ada keterangan lain
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang menyerang manusia dengan bakteri bernama leptospira bakteri ini hidup dalam urine dan darah hewan yang kemudian menkontaminasi tanah, air ataupun makanan. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menunjang diagnosa adalah ELISA, CT scan, PCR, tes kultur atau MAT.
- A27.0 Leptospirosis icterohaemorrhagica, dipilih untuk Leptospirosis yang ditandi dengan diatesis hemoragik dan penyakit kuning
- A27.8 dipilih jika Leptospirosis terkonfirmasi bentuk
lain namun istilah tidak ditemukan dalam ICD
- A27.9 dipilih jika Leptospirosis dicatat tanpa ada keterangan lain
Erysipeloid adalah penyakit menular yang diakibatkan oleh
bakteri stretococcus yang masuk ke dalam lapisan kulit yang terdapat luka
sehingga mengenai dermis. Gejala yang dapat dirasakan berupa ruam, demam, nyeri
dan luka tepuh. Pemeriksaan yang bisa dialkukan untuk menunjang diagnosa berupa
biopsi dan tes darah.
- A26.0 Cutaneous erysipeloid, dipilih untuk Erysipeloid yang menginfeksi kulit.
- A26.7 Erysipelothrix sepsis, dipilih untuk Erysipeloid yang sudah menyerang dalam aliran darah
- A26.8 Erysipeloid lainnya.
dipilih jika Erysipeloid terkonfirmasi bentuk lain namun istilah tidak ditemukan dalam ICD
- A26.9 dipilih
jika Erysipeloid dicatat
tanpa ada keterangan lain
Demam gigitan tikus merupakan salah sau penyakit zoonosis yang ditularkan oleh hewan pengerat melalui cairan tubuhnya dimana disitu terdapat bakteri bernama spirilium minus dan streptobacilius monoliformis. Orang yang terinfeksi biasanya akkan mengalami gejala berupa ruam pada area yang digigit, demam dan nyeri sendi otot
- A25.0 Spirillosis, Dipilih jika Rat-bite fevers terkonfirmasi disebablan oleh bakteri spirilium minus
- A25.1 Streptobacillosis, Dipilih jika Rat-bite fevers terkonfirmasi disebablan oleh bakteri streptobacilius monoliformis
- A25.9 Dipilih jika Rat-bite fevers dicatat tanpa ada keterangan lain atau tidak/belum terkonfirmasi jenis Rat-bite fevers nya
Glanders dan melioidosis merupakan penyakut zoonosis yang menular dari hwan ke manusia melalui, kontak langsung, pernapasan ataupun makanan yang terkontaminasi. Keduanya disebbkan oleh bakteri gram negatifGlanders disebabkan oleh bakteri burkholderia mallei sedangkan melioidosis disebabkan bekteri burkholderia pseudomalleri
- A24.0 Glanders, Glanders dapat dideteksi menggunakan tes mallein tidak ada gejala yang spesifik untuk penyakit ini sehingga seringkali memperlambat diagnosa
- A24.1 Melioidosis akut dan fulminan, merupakan spektrum klinis dari melioidosis
- A24.2 Melioidosis subakut dan kronis, Melioidosis tipe subakut adalah Melioidosis yang masa inkubasinya beberapa minggu hingga bulan. Sedangkan tipe kronis terjadi de nova mengikuti tipe akut
- A24.3 Melioidosis lainnya. dipilih jika Melioidosis terkonfirmasi jenis lain namun istilah tidak ditemukan dalam ICD
- A24.4 Melioidosis, dipilih jika Melioidosis dicatat tanpa ada keterangan lain
Brucellosis dikenal juga sebagai demam
malta, demam bergelombang, dan demam mediterania merupaka penyakit zoonosis
yang disebabkan oleh bakteri brucella yang terdiri dari 4 spesies, brucella
abortus, brucella canis, brucella suis dan brucella melitensis dapat dideteksi
menggunakan pemeriksaan seperti rantgen, CT scan, MRI, dan EKG. Gejala dari
brucellosis adalah berkeringat malam dan nyeri otot.
- A23.0 dipilih jika brucellosis terkonfirmasi disebablan oleh brucella melitensis
- A23.1 dipilih jika brucellosis terkonfirmasi disebablan oleh brucella abortus
- A23.2 dipilih jika brucellosis terkonfirmasi disebablan oleh brucella suis
- A23.3 dipilih jika brucellosis terkonfirmasi disebablan oleh brucella canis
- A23.8 dipilih jika brucellosis terkonfirmasi disebablan oleh shigella jenis lain namun istilah tidak ditemukan dalam ICD
- A23.9 dipilih jika brucellosis dicatat tanpa ada keterangan lain atau tidak/belum terkonfirmasi jenis brucellosis nya.
- A22.0 Cutaneous anthrax, merukan jenis anthrax yang terjadi saat seseorang mempunyai luka pada kulit, terkena gigitan serangga ataupun menyentuh hewan yang sedah terinfeksi Anthrax
- A22.1 Pulmonary anthrax, Anthrax jenis ini menginfeksi pernapasan meluli spora dari bakteri yang terhirup saat bernapas
- A22.2 Gastrointestinal anthrax. Adalah Anthrax pada saluran pencernaan ini terjadi karena penderita mengkonsumsi makanan yang sudah terkontaminasi bakteri bacilius anthracis
- A22.7 Anthrax sepsis. Anthrax yang sudah berada pada pembuluh darah dan memungkinkan telah menyebar dalam tubuh dan memiliki rasio kematian yang tinggi.
- A22.8 kode untuk bentuk lain dari Anthrax namun kodisi tidak ditemukan dalam ICD
- A22.9 dipilih untuk pasien dengan diagnosa Anthrax tanpa dijelasakan spesifik atau tidak ada keterangan lain
Tularemia merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri francisella tularensis yang menginfeksi manusia maupun hewan, bakteri dapat masuk kedalam tubuh melalui kulit yang terluka, saluran pencernaan atupun pernapasan. Dalam ICD kode untuk tularemia terdiri dari 7 kode yang dapt dipilih sesui kondisi pasien.
- A21.0 Ulceroglandular tularaemia, merupakan tularemia yang menginfeksi tubuh melalui kulit yang terluka
- A21.1 Oculoglandular tularaemia, dipilih untuk tularemia yang terjadi mata masuk dari percikan darah atau saat menggosok mata dengan tangan yang terkontaminasi
- A21.2 Pulmonary tularaemia, adalah bakteri francisella tularensis yang masuk saat proses pernapasan
- A21.3 Gastrointestinal tularaemia, adalah tularemia yang menyebabkan terbentuknya lesi ulseratif pada saluran cerna
- A21.7 Generalized tularaemia, tularaemia jenis ini didiagnosa berdasarkan temuan lesi makroskopisyang menyebar diparu-paru, kelenjar getah bening, limpa, hati dan ginjal
- A21.8 kode untuk bentuk lain dari tularaemia namun kodisi tidak ditemukan dalam ICD
- A21.9 dipilih untuk pasien dengan diagnosa tularaemia tanpa dijelasakan spesifik atau tidak ada keterangan lain
Pada kode ini diperuntukan untuk penyakit zoonosis tertentu, penyakit zoonosis adalah penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia atau bisa juga sebaliknya, penyebab dari bakteri, patogen, fungi, parasit dan virus. Pencegahan yang dpat dilakukan adalah menjaga kebersihan dan memasak makanan dengan benar serta menggunkan APD, mengunakan disinfektan, dan mengisolasi jika hewan sudah terinfeksi.
A20 Plague
Plague
merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri bernama yersinia pestis
biasanya ditemui pada kutu yang hidup di hewan pengerat misalnya tikus, kelinci
dan tupai. pasien yang diduga terinfeksi dapat didiagnosa dengan pemeriksaan
darah, dahak atau cairan kelenjar getah bening. Dalam ICD kode untuk plague
terdiri dari 6 kode subkategori yang dapat dipilih sesuai kondisi pasien.
A20.0 dipilih untuk penyakit Bubonic plague atau wabah pes atau black death terjadi ketika seseorang terkena gigitan kutu hewan pengerat kemudian bakteri berpindah dari kutu ke tubuh manusia melalui sistem limfatik berakhir dikelenjar getah bening
- A20.1 dipilih untuk penyakit Cellulocutaneous plague terjadi ketika bakteri menyerang kulit disekitar area yang digigit oleh kutu
- A20.2 dipilih untuk penyakit Pneumonic plague adalah penyakit zoonosis yang menginfeksi paru-paru yamg bisa ditularkan melalui kontak langsung atuupun droplet
- A20.3 dipilih untuk penyakit Plague meningitis adalah bakteri yersinia pestis yang menyerang sistem saraf pusat
- A20.7 dipilih untuk penyakit Septicaemic plague merupakan bakteri yang telah masuk kedalam darah dan menyebar ke seluruh tubuh ditandai dengan pendarahan pada kulit, ruam hitam/merah hingga batuk/muntah darah.
- A20.8 dipilih untuk penyakit plague bentuk lain namun kodisi tidak ditemukan dalam ICD.
- A20.9 dipilih untuk pasien dengan diagnosa Plague tanpa dijelasakan spesifik atau tidak ada keterangan lain.
- A19.0 dipilih jika Tuberkulosis milier akut terjadi pada satu tempat tertentu. Akut disini berarti bahwa penyebaran basil terjadi dengan tiba-tiba. Terjadi pada satu tempat misalnya hanya pada ginjal saja.
- A19.1 dipilih jika Tuberkulosis milier akut terjadi pada beberapa tempat. Misalnya ditemukan dalam ginjal da hati
- A19.2 dipilih jika terkonfirmasi Tuberkulosis milier akut, namun tidak dijelaskan lebih spesifik
- A19.8 dipilih jika terkonfirmasi Tuberkulosis milier kodisi lainnya
- A19.9 dipilih jika Tuberkulosis milier tercatat tanpa ada informasi yang lebih spesifik atau tidak dijelaskan
Microbavterium tuberculosis masuk melalui pernafasan lalu basil menyebabkan peradangan pada permukaan alveolus, Alveoli adalah berkembang biak bakteri Myobacterium Tuberculosis. Sistem imun merespon dan terjadi inflamasi. Fagosit menekan bakteri, limfosit spesifik tuberkulosis menghancurkan bakteri dan jaringan normal,
Jika respon imun adekuat, jaringan parut pada tuberkel atau lesi granulomatosa dan basil akan tetap dalam kondisi tertutup. Sehingga penyakit tuberculosis akan tidak terjadi. dan sebaliknya jika imun tidak adekuat untuk mengandung basili, maka akan terjadi penyakit tuberkulosis. Bakteri yang telah masuk dapat menyebar dari paru ke organ lain memelui sistem peredaran darah, saluran limfe, saluran pernafasan atau penyebaran langsung kebagian tubuh.
Kode A18 digunakan untuk pasien dengan diagnosa tuberkulosis pada organ lain. Dalam icd kode ini terdiri dari 9 subkategori yang dapat dipilih sesuai kondisi klinis pasien :
- A18.0† dipilih jika pasien terdiagnosa Tuberkulosis tulang dan sendi, pada tb tulang dan sendiri Pasien dapat mengalami Gejala klinis berupa pembengkakan, nyeri dan gangguan fungsi yang progresif selama berminggu - minggu hingga berbulan – bulan. diagnosis bisa didapat dari biakan mikobakterium jaringan tulang, Aspirasi jarum, biopsi (CT-guided), Tes sensitivitas antimikrobial isolat, Foto toraks untuk menentukan bekas TB atau TB paru. Pemeriksaan MRI untuk menentukan perluasan infeksi ke jaringan lunak dan struktur di sekitar tulang (contoh: medula spinalis).
- A18.1 dipilih jika pasien terdiagnosa Tuberkulosis sistem genitourinaria, merupakan sistem organ dari sistem reproduksi dan kemih. Pasien yang terkonfirmasi bisa mengalami gangguan miksi dan urgensi, Epididimimitis kronik, nyeri pada pinggang, punggung dan suprapublik, hematuria, hematospermia, sistitis rekuren dan pembengkakan testis. Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan BTA urin, biakan mikrobakterium Tuberkulosis dan pemeriksaan spesimen jaringan disertai pemeriksaan BTA/ TCM TB
- A18.2 dipilih jika pasien terdiagnosa Limfadenopati perifer Tuberkulosis, adalah tuberkulosis yang menyerenag sistem kelenjar yang dapat dideteksi melalui aspirasi jarum halus atau biopsi kelenjar dan pemeriksaan TCM.
- A18.3 dipilih jika bakteri mikrobakterium tuberkulosis menyerang usus, peritoneum dan kelenjar mesenterika. Usus adalah bagian dari saluran cerna, peritonium merupakan selaput pada diding perut bagian dalam, sedangkan kelenjar mesenterika adalah jaringan yang mentambungkan usus dan peritonium. Umumnya pasien akan mengalami diare, nyeri pada perut, turun berat badan, darah pada rektum, nyeri abdomen, massa abdomendan limfadenopati, anoreksia dan malaise.
- A18.4 dipilih jika pasien Tuberkulosis kulit dan jaringan subkutan. Ditegakkan apabila Mycobacterium tuberculosis ditemui pada biakan jaringan dari biopsi kulit atau pulasan sitologi, atau ditemukan DNA Mycobacterium spp dengan pemeriksaan molekuler. Gejala berupa papula kecil dan eritema hingga tuberkuloma besar, gambaran scrofuloform, plak anular dengan batas verukosa pada lupus vulgaris atau plak hiperkeratotik.
- A18.5 dipilih jika pasien terdiagnosa Tuberkulosis mata. Tb mata dapat terjadi pada semua bagian mata, adneksa mata dan orbita.
- A18.6 dipilih jika pasien terdiagnosa Tuberkulosis telinga. Pasien bisa dicurigai tb telinga jika terjadi Sekret supuratif tanpa nyeri persisten, Tuli berat, Riwayat TB perforasi membran timpani multipel dan melemahnya saraf wajah. Diagnosa dapat ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologi jaringan mastoid, BTA cairan telinga tengah dan biakan maupun tes molekuler.
- A18.7† dipilih jika pasien terdiagnosa Tuberkulosis kelenjar adrenal. Kelenjar ini terletak diatas ginjal yang berfungsi memproduksi hormon.
- A18.8 dipilih jika pasien terdiagnosa Tuberkulosis organ lain yang tidak terklasifikasi dalam ICD
Manifestasi infeksi TB di susunan saraf pusat (SSP) secara patologi bisa berupa meningitis, ensefalitis, mielitis, abses dan tuberkuloma, ventrikulitis, vaskulitis, juga infark. Gejala yang birasakan biasanya nyeri kepala, demam, penurunan berat badan, penurunan kesadaran, muntah, dan kejang. Gejala juga bisa disertai defisit neurologis misalnya kaku kuduk, paresis saraf kranial, dan hemiparesis.
Pemeriksaan pencitraan
radiologis yang direkomendasikan ialah pemeriksaan CT scan atau MRI otak dengan
kontras. Temuan tersering yang menunjang diagnosis meningitis TB di antaranya
hidrosefalus, penyangatan kontras di daerah basal meningens, tuberkuloma,
vaskulitis, dan infark
A17.0† dipilih jika
pasien terdiagnosa meningitis tuberkulosis, dimana bakteri mycobacterium tuberculosis
menginfeksi selaput meninges. Selaput meninges merupakan selaput yang
melindungi otak dan saraf tulang belakang.
A17.1† dipilih jika
pasien terdiagnosa Tuberkuloma meningeal. Tuberkuloma meningeal adalah bentuk tuberkulosis yang menyerupai
lesi tumor pada subjek imunokompeten tanpa tanda sistemik terkait. Diagnosisnya
didasarkan pada pemeriksaan anatomipatologis serta sampel biopsi stereotaxic
atau eksisi bedah lesi otak.
A17.8† dipilih jika
pasien terdiagnosa Tuberkulosis sistem saraf lainnya
A17.9† dipilih jika
pasien terdiagnosa Tuberkulosis sistem saraf tanpa keterangan lebih spesifik
atau tidak diketahui.
TUBERCULOSIS : RESPIRATORY TUBERCULOSIS, NOT CONFIRMED BACTERIOLOGICALLY OR HISTOLOGICALLY (A16)
Diagnosis tuberculosis paru dapat ditegakkan memalui
gejala batuk kronis disertai hematisis, berat badan turun, berkeringat dingin,
sesak napas dan demam. Sealin itu beberapa test tambahan juga dapat dilakukan
untuk menegakkan diagnosis. Seperti Pemeriksaan darah rutin, Sputum BTA, Tes
peroksidase anti peroksidase, Tes mantoux tuberkulit, Polumerase chain reaction,
BACTEC (bectom dickonson diagnostik instument sistem), Mycodot dan Radiologi
Pasien
yang tidak memenuhi kriteria secara bakteriologis tetapi didiagnosis
tuberkulosis aktif oleh dokter, dan mendapat pengobatan tuberkulosis dapat
menggunakan kode A16. Contoh kriteria pasiennya adalah
1. Pasien
tuberkulosis dengan BTA negatif dan hasil foto toraks menunjukan tuberkulosis
2. Pasien
tuberkulosis paru BTA negatif dengan tidak ada perbaikan klinis setelah
mendapat antibioti non OAT, dan mempunyai faktor risiko tuberkulosis
- A16.0 Dipilih untuk pasien dengan diagnosa tuberkulosis paru dengan hasil bakteriologi dan histologi negatif. Kode dapat dicari menggunakan leadterm tuberculosis
- A16.1 Dipilih untuk pasien dengan diagnosa tuberkulosis paru namum pemeriksaan bakteriologi dan histologi belum selesai. Kode dapat dicari menggunakan leadterm tuberculosis
- A16.2 Dipilih unt uk pasien dengan
diagnosa tuberkulosis paru tanpa ada keterangan terkonfirmasi secara
bakteriologi dan histologi. Kode dapat dicari menggunakan leadterm abscess,
aneurysm, assmann’n focus, asthma, atelectasis, bronchiectasis, cavition of
lung, desease, fistula, focus, infection, mycobacterium, pneumonia, pneumorrhagia,
pneumothirax, rasmussen’s aneurysm, tuberculosis dan ulcer,
- A16.3 Dipilih untuk pasien dengan diagnosa
tuberkulosis kelenjar getah bening intratoraks,tanpa ada keterangan
terkonfirmasi secara bakteriologi dan histologi. Kode dapat dicari menggunakan
leadterm adenopathy, tuberculosis
- A16.4 Dipilih untuk pasien dengan diagnosa
tuberkulosis laring, trakea dan bronkus, tanpa ada keterangan terkonfirmasi secara
bakteriologi dan histologi. Kode dapat dicari menggunakan leadterm bronchitis, broncholithiasis,
fisula, laryngitis, laryngotracheitis, stenosis, stricture, tracheitis, tuberculosis
- A16.5 Dipilih untuk pasien dengan diagnosa
tuberkulosis Pleurisy, tanpa ada keterangan terkonfirmasi secara bakteriologi
dan histologi. Kode dapat dicari menggunakan leadterm adhesions, effusion,
empyema, fistula, hemothorax, hydropneumothorax, pleurisy, pyopneumothorax,
pythorax, tuberculosis
- A16.7 Dipilih untuk pasien dengan diagnosa
tuberkulosis pernafasan primer, tanpa ada keterangan terkonfirmasi secara bakteriologi
dan histologi. Kode dapat dicari menggunakan leadterm adenopathy, complex,
effusion, epituberculosis, ghon tubercle, infection, pleurisy, tubercle, tuberculosis
- A16.8 Dipilih untuk pasien dengan diagnosa
tuberkulosis pernafasan lainnya, tanpa ada keterangan terkonfirmasi secara
bakteriologi dan histologi. Kode dapat dicari menggunakan leadterm
mediastinitis, pansinusitis, pharyngitis, rhinitis, sinusitis, tonsilitis, tuberculosis.
- A16.9 Dipilih untuk pasien dengan Tuberkulosis pernafasan tidak terkonfirmasi secara bakteriologis dan
histologi. Dan tidak dijelaskan atau
tidak diketahui organ pernafasannya.
TUBERCULOSIS: RESPIRATORY TUBERCULOSIS, BACTERIOLOGICALLY AND HISTOLOGICALLY CONFIRMED : (A15)
Tuberculosis merupakan penyakit infeksi saluran napas bagian bawah yang menyerang
jaringan paru atau parinkin paru oleh basil mycobakterium tuberkulosis, dapat mengenai hampir semua
organ tubuh (meninges, ginjal, tulang,
dan nodus limfe, dan yang lainnya) dengan lokasi terbanyak diparu- paru. Tuberkulosis disebabkan oleh bakteri tumbuh-lambat yang disebut Mycobacterium tuberculosis Penyebaran orang-ke-orang melalui tetesan udara yang disebabkan oleh bersin atau batu (nuryati,2018)
Seseorang yang terkena tuberculosis mungkin akan mengalami gejala
seperti penrunan berat badan, demam, dan berkeringat pada malam hari.jika
infeksi terus berlanjut makan penderita akan mengalami batuk berdahak disertai
darah yang dapat menular. Tubberculosis dapat dideteksi dengan melakukan rontgen
dada, tes kulit mantoux dan kultur sputum. Dalam ICD kode untuk tuberculosis
dibagi menjadi 5 kategori A15, A16, A17, A18, dan A19.
A15 Respiratory tuberculosis, bacteriologically and histologically confirmed
·
A15.0 Dipilih jika tuberkulosis paru,
dikonfirmasi dari hasil pemeriksaan mikrokopis sputum (dahak) dengan atau tanpa
culture. mikroskopi sputum dilakukan untuk menemukan apakah terdapat jumlah
patogen yang memadai dalam culture dan membuat diagnosis definitif. Kode
diagnosa dapat dicari menggunakan leadterm Tuberculosis,
- A15.1 Dipilih jika tuberkulosis paru, dikonfirmasi dari culture saja. Culture digunakan untuk mengidentifikasi bakteri atau jamur yang menyebabkan infeksi pada saluran udara atau paru-paru Kode diagnosa dapat dicari menggunakan leadterm Tuberculosis,
- A15.2 Dipilih jika tuberkulosis paru, dikonfirmasi dari histologis saja. Diagnosis histologis didasarkan pada identifikasi peradangan granulomatosa yang biasanya ditandai dengan agregat histiosit epiteloid, dengan manset perifer limfosit dan sel plasma. Dalam situasi di mana spesimen tidak diuji, atau uji molekuler gagal mendiagnosis TB karena alasan apa pun, pemeriksaan histopatologi bermanfaat untuk menyarankan diagnosis. Kode diagnosa dapat dicari menggunakan leadterm Tuberculosis.
- A15.3 Dipilih jika tuberkulosis paru, terkonfirmasi dengan cara yang tidak dijelaskan atau tidak diketahui. Kode diagnosa dapat dicari menggunakan leadterm Tuberculosis.
- A15.4 Dipilih jika Tuberkulosis kelenjar getah bening intrathoracic dikonfirmasi secara bakteriologis atau histologis. Pemeriksaan bakteriologi adalah pemeriksaan menggunakan cairan dari organ yang dicurigai terkena TB ekstra paru. Kode diagnosa dapat dicari menggunakan leadterm Tuberculosis.
- A15.5 Dipilih jika Tuberkulosis laring, trakea dan bronkus, terkonfirmasi secara bakteriologis dan histologis. Kode diagnosa dapat dicari menggunakan leadterm bronchitis, broncholithiasis, laryngitis, tracheitis dan Tuberculosis.
- A15.6 Dipilih jika Pleurisy tuberkulosis, terkonfirmasi secara bakteriologis dan histologis Kode diagnosa dapat dicari menggunakan leadterm clacification, empyema, pleurisy dan Tuberculosis.
- A15.7 Dipilih jika Tuberkulosis pernafasan primer, dipastikan secara bakteriologis dan secara histologi. Secara klasik tubrculosis dibagi menjadi primer dan sekunder. TB primer adalah ketika pasien pertama kali terinfeksi mycobakterium tuberkulosis sedangkan TB sekunder adalah ketika pasien sebelumnya sudah terinfeksi mycobakterium tuberkulosis. Kode diagnosa dapat dicari menggunakan leadterm adenopathy, complex, effusion, epituberculosis, ghon tubercle, infection, pleurisy, tubercle, dan Tuberculosis.
- A15.8 Dipilih jika Tuberkulosis pernafasan lainnya terkonfirmasi secara bakteriologis dan histologi. Kode diagnosa dapat dicari menggunakan leadterm mediastinitis, pansinusitis, pharyngitis, rhinitis, sinusitis, tonsilitis, dan Tuberculosis.
- A15.9 Dipilih jika Tuberkulosis pernafasan terkonfirmasi secara bakteriologis dan histologi. Namun tidak dijelaskan atau tidak diketahui organ pernafasannya.

