Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyebabkan infeksi yang pada tahap akhirnya dikenal sebagai Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). HIV dibagi menjadi empat stadium klinis.
- Stadium 1: Pada fase ini, pasien biasanya tidak menunjukkan gejala klinis yang nyata atau hanya ditemukan adanya limfadenopati generalisata (pembengkakan kelenjar getah bening di berbagai tempat).
- Stadium 2: Pasien mulai mengalami penurunan berat badan namun masih kurang dari 10% dari berat badan sebelumnya. Selain itu, terdapat infeksi ringan seperti herpes zoster, dermatitis seboroik, infeksi jamur pada kuku, serta infeksi saluran pernapasan yang berulang.
- Stadium 3: Ditandai dengan penurunan berat badan lebih dari 10%, diare kronis yang berlangsung lebih dari satu bulan, demam menetap, kandidiasis oral (infeksi jamur di mulut), leukoplakia oral berambut, serta TB paru. Pada stadium ini, infeksi bakteri yang berat seperti meningitis juga dapat terjadi.
- Stadium 4: Merupakan kondisi AIDS atau fase lanjut di mana terjadi penurunan berat badan yang drastis (wasting syndrome), diare kronis lebih dari satu bulan, serta infeksi oportunistik yang berat seperti Pneumocystis jirovecii pneumonia (PCP), infeksi kriptokokus, cytomegalovirus, toksoplasmosis, hingga TB ekstra paru.
Tatalaksana klinis dan terapi ARV (Antiretroviral) untuk pasien HIV :
1. Inisiasi Terapi ARV
Terapi ARV diinisiasi pada pasien yang berada di stadium klinis 3 dan 4, atau berdasarkan jumlah sel CD4. Prinsip utama pengobatan adalah menggunakan kombinasi tiga obat yang terdiri dari dua jenis Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI) dan satu Non-Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NNRTI).
2. Kombinasi Obat yang Umum Digunakan
Di Indonesia, kombinasi yang sering digunakan dalam bentuk Fixed-Dose Combination (KDT) adalah:
-Tenofovir (TDF)
-Lamivudine (3TC)
-Efavirenz (EFV)
Alternatif lain dapat diberikan jika terdapat efek samping, namun tetap mempertahankan kombinasi dua NRTI dan satu NNRTI.
3. Tatalaksana Efek Samping (Hepatotoksisitas)
Jika muncul gejala efek samping hepatotoksik (seperti peningkatan SGOT/SGPT hingga tiga kali lipat), langkah yang dilakukan adalah:
- Menghentikan (stop) obat ARV yang bersifat hepatotoksik.
- Melakukan substitusi atau mengganti golongan obat tersebut dengan golongan lain yang tidak bersifat hepatotoksik (seperti mengganti Efavirenz dengan Nevirapine atau sebaliknya) sambil tetap melanjutkan terapi ARV yang tidak bermasalah.
4. Pemeriksaan Penunjang Sebelum Terapi
Sebelum memulai terapi, sangat penting untuk melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memantau fungsi organ dan risiko komplikasi, yaitu:
- CD4 untuk menilai tingkat imunodefisiensi.
- Fungsi Hati (SGOT/SGPT) serta Fungsi Ginjal (Ureum/Kreatinin) untuk mendeteksi dini risiko efek samping.
- Darah Lengkap.
- Skrining TB secara rutin, karena pasien HIV wajib diperiksa TB mengingat kedua penyakit ini sering berdampingan dan meningkatkan mortalitas jika terjadi koinfeksi.

0 Comments