Sepsis merupakan disfungsi organ yang disebabkan oleh disregulasi respon tubuh terhadap infeksi. Disfungsi organ ini terjadi karena penurunan perfusi jaringan dan oksigenasi ke organ-organ vital, yang dipicu oleh proses inflamasi serta gangguan sirkulasi. Sistem skoring yang digunakan untuk menilai disfungsi organ tersebut terbagi menjadi dua, tergantung pada pengaturan klinisnya:
1. qSOFA (Quick SOFA):
Digunakan di luar unit perawatan intensif (ICU), seperti di poliklinik atau bangsal perawatan biasa, karena parameter yang dinilai lebih sederhana dan tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium khusus. Parameter qSOFA meliputi:
- Penurunan GCS atau perubahan status mental
- Takipnea dengan laju napas lebih dari atau sama dengan 22 kali per menit.
- Hipotensi dengan tekanan darah sistolik kurang dari atau sama dengan 100 mmHg.
Jika terdapat minimal dua dari tiga kriteria ini, pasien dicurigai mengalami sepsis.
2. SOFA Score:
Biasanya digunakan di ICU karena menilai disfungsi organ di berbagai sistem tubuh melalui pemeriksaan laboratorium dan klinis. Sistem yang dinilai meliputi:
- Sistem Respirasi: Mengukur rasio PaO2/FiO2.
- Sistem Renal: Dinilai berdasarkan urine output atau peningkatan kadar kreatinin.
- Sistem Hepatik: Dilihat dari peningkatan kadar bilirubin.
- Sistem Kardiovaskular: Dinilai dari Mean Arterial Pressure (MAP) atau kebutuhan penggunaan vasopressor.
- Sistem Hematologi: Dinilai berdasarkan penurunan jumlah trombosit.
Skor SOFA yang lebih dari atau sama dengan dua menunjukkan adanya bukti disfungsi organ yang meningkatkan risiko mortalitas. Berikut adalah tatalaksana sepsis:
- Pemeriksaan Laktat: Mengukur kadar laktat serum sebagai indikator awal.
- Kultur Darah: Melakukan pengambilan kultur darah (sebanyak dua hingga empat botol) sebelum memulai pemberian antibiotik.
- Pemberian Antibiotik: Memberikan antibiotik spektrum luas yang tepat sesegera mungkin dalam satu jam pertama.
- Resusitasi Cairan: Memberikan cairan kristaloid segera, dengan target resusitasi yang adekuat.
- Vasopressor: Jika pasien tetap mengalami hipotensi persisten setelah resusitasi cairan (MAP tetap di bawah 65 mmHg), pemberian vasopressor seperti norepinefrin harus segera dimulai.


0 Comments